Sorong, – Tim Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Papua Barat menggelar kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) di SMP N 1 Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dini terkait pencegahan paham intoleran, radikalisme, dan terorisme.

Acara yang berlangsung di Aula SMP N 1 Kota Sorong mulai pukul 08.30 WIT ini menghadirkan Ipda M. Arfa Jaya, S.H., bersama personel Satgaswil Papua Barat sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, tim membekali siswa-siswi agar memiliki ketahanan terhadap narasi radikal, intoleransi, dan terorisme yang marak beredar di media sosial. Hal ini dilakukan guna membentengi siswa dari paparan konten yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Ipda M. Arfa Jaya menekankan pentingnya prinsip “saring sebelum sharing” dalam mengonsumsi informasi digital. Menurutnya, Generasi Z atau kelompok usia pelajar SMP merupakan kelompok yang paling rentan terpapar konten negatif karena durasi penggunaan internet yang tinggi di masa pencarian jati diri.

“Siswa harus waspada terhadap konten yang dapat memicu perpecahan atau kebencian antarumat beragama dan suku. Membentengi diri dari konten yang memecah belah bangsa adalah kunci menjaga persatuan,” tegasnya di hadapan peserta.

Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Sorong, Wasuybba, S.Pd., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Polri tersebut. Menurutnya, pemahaman mengenai bahaya radikalisme sangat krusial bagi siswa di tengah pesatnya arus informasi digital saat ini.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini sebagai langkah preventif untuk melindungi siswa kami dari pengaruh negatif di internet,” ujar Wasuybba di sela kegiatan yang juga didampingi Wakasek Humas Reppi, S.Pd., beserta jajaran guru lainnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara, di mana sebanyak 403 siswa dan dewan guru hadir menyimak materi. Melalui sosialisasi ini, diharapkan para siswa memiliki “imunitas ideologi” yang kuat sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman dan harmonis, jauh dari pengaruh paham radikal.

(Red/Rezha LDD)