Jember, – Kisah masa lalu keluarga Kraton Istana Residen Besuki selalu menyimpan misteri yang menarik untuk dikupas. Salah satu kisah yang paling melegenda adalah perjalanan hidup Raden Kusnandar Astrodiarjo, ayah dari Ketua Umum Fast Respon Nusantara (FRN), Agus Flores. Lahir sebagai putra dari pejabat terpandang, Raden Kusman, kehidupan Kusnandar muda sejatinya dikelilingi oleh gelimang harta dan kemewahan yang tak terbatas pada zamannya.
Sebagai anak mantu dari Gubernur Residen Besuki sekaligus pemegang aset-aset berharga kala itu, Raden Kusnandar hidup dalam lingkungan yang sangat memanjakan. Namun, fasilitas mewah dan kendali penuh dari sistem keluarga Residen justru membuatnya merasa terkekang. Puncaknya terjadi pada tahun 1968, ketika ia dimasukkan ke Akademi Kepolisian (Akpol) Sukabumi melalui jalur yang telah diatur rapi oleh gurita pengaruh keluarganya.
Merasa masa depannya terus didikte, sang pengembara batin ini melancarkan trik ampuh untuk lepas dari “belenggu” Istana Residen Besuki. Ia mengambil keputusan nekat: melarikan diri dari pendidikan Akpol.
Demi mengejar kebebasan dan jati diri, Raden Kusnandar menyeberangi lautan menuju Pulau Sulawesi. Di tanah rantaunya yang baru, ia menemui seorang sahabat karib bernama Gatot, yang menjabat di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulawesi Tengah. Di sanalah misi barunya dimulai sebagai seorang arsitek. Karya monumental pertama yang berhasil ia bangun di tanah sula adalah proyek prestisius Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah.
Kini, setelah setengah abad berlalu, sejarah tampaknya sedang berulang melalui hukum alam yang unik. Jika dahulu sang ayah melakukan eksodus dari Pulau Jawa ke Sulawesi untuk mencari kebebasan, kini sang anak Agus Flores melakukan perjalanan sebaliknya. Ia bergerak dari Sulawesi menuju Jawa.
Bukan lagi sekadar melarikan diri, sang anak membawa misi yang jauh lebih berani dan “pedas” sebagai ahli waris sah, siap menuntut dan menata kembali sejarah serta aset yang menjadi hak keluarganya.
(Red)

















Tinggalkan Balasan